Globalisasi
dan Kemunduran Islam
Oleh: M. Fakhruddin
Al-Razi*
Seorang
pembaharu Islam pernah berkata bahwa "Jaal
Islamu ghariban wasaya'udu ghariban" (Islam datang dalam keadaan asing
dan akan kembali menjadi asing). Dan sekarang, ketika peradaban seolah
menyisihkan kita, penindasan terjadi di mana-mana, terpuruk dan tidak bisa
berkembang, apakah saat seperti ini sudah bisa kita sebut sebagai masa di mana Islam kembali menjadi asing?
Dahulu,
nabi Muhammad menyebarkan Islam dalam keadaan tidak ada satu pun orang yang
percaya dan bahkan tidak mengenal Islam sama sekali akan tetapi bisa berkembang
pesat dan akhirnya menduduki kejayaannya. Sekarang, di zaman maha modern ini,
untuk menyatakan Islam berkemajuan rasanya kita akan tertahan realita-realita
yang menyakitkan. Banyak negara-negara Islam yang menjadi terpuruk, diterpa
konflik, dan terbelakang. Sementara mereka yang bukan Islam seolah nyaman
dengan pesatnya prestasi dalam berbagai hal. Orang-orang Islam banyak yang sengsara,
miskin, dan kalah peradabannya. Namun untuk mengatakan berkemunduran rasanya
juga tidak mungkin melihat kita harus punya harga diri, harapan, dan kebanggaan
akan agama ini. Maka saudara-saudara seiman, sekali lagi, apakah fenomena yang
seperti ini sudah patut kita sebut sebagai ‘kembali menjadi asing’ atau
bagaimana? Jika memang tidak apakah itu karena kita malu mengakuinya atau
memang anggapan itu tidak benar?
Agaknya,
tanpa diakui pun umat ini juga pasti merasakan bahwa ada kemunduran dalam Islam
terutama dalam segi perkembangan peradaban yang kalah jauh dengan peradaban
barat. Ini nyata dan bukan anggapan biasa. Penyebab utamanya pasti akan
mengarah pada globalisasi.
Sebelum
lebih jauh menyenggol globalisasi dan hubungannya dengan kemunduran Islam,
sebuah konsepsi jawaban tentang kenapa Islam semakin mengalami kemunduran
pernah terlontar dalam sebuah kutipan. Ada ungkapan yang berbunyi “Limadza ta'akhkhara al-muslimun wa
taqaddama ghayruhum?” (Kenapa umat muslim terbelakang sedangkan yang
non-muslim maju?) “Lianna 'amalana
a'maluhum wa a'amaluhum a'maluna” (karena kita mempraktekkan ajaran mereka
sedangkan mereka mempraktekkan ajaran kita).
Meski
kredibilitas ungkapan ini tidak bisa sepenuhnya dijadikan rujukan mutlaq, namun
hal ini rasanya ada betulnya juga. Sehubungan dengan ramalan akan kembalinya
Islam menjadi asing itu, kini sudah banyak nilai-nilai yang terkandung dalam
agama kehilangan esensinnya. Sehingga ibadah-ibadah tak lebih dari hanya
sekedar ritual biasa tanpa ada hasilnya. Kuantitas tidak sebanding dengan
entitas. Nilai-nilai islam terdegradasi oleh pengikutnya sendiri. Maka dalam
kondisi seperti ini, sudah barang pasti sah-sah saja bila kita katakan Islam
sudah mengalami 'pengasingan' secara perlahan-lahan.
Nilai-nilai
Islam sudah mulai dilupakan. Sementara mereka yang bukan Islam seolah melihat
bahwa esensi ajaran-ajaran Islamlah yang akan membawa potensi kemajuan sehingga
mereka mempraktekkannya dalam kegiatan sehari-hari. Hal itu terbukti setelah
datangnya globalisasi. Bahwa peradaban Islam kalah masif daripada peradaban
barat. Perilaku-perilaku amoral yang menjadi label budaya barat malah banyak
dilakukan oleh para generasi Islam. Nilai-nilai etos kerja masyarakat muslim
akhirnya menurun dan sebaliknya, mereka-mereka yang non-muslim megah
berjaya-jaya.
Tidak
hanya etos kerja, kejujuran, kebersihan, dan semangat positif yang semestinya
sudah diajarkan dalam Islam malah dipraktekkan oleh orang barat dalam membangun
dunia. Akibatnya, Islam yang dulu berjaya kini mulai tergeser dan kehilangan
tempat di hati manusia. Meski wujudnya ada namun seperti yang dikatakan tadi,
nilai penghayatan ajaran-ajarannya kurang muncul pada masyarakat Islam sendiri.
Pada
akhirnya, semua kekacauan internal Islam ini akan mengarah pada tuduhan dan
pengkambinghitaman terhadap globalisasi. Dianggapnya bahwa sumber segala
kemunduran adalah karena adanya tantangan peradaban yang berupa globalisasi
itu. Globalisasi digadang-gadang menjadi sumber dari segala persoalan, sumber
kekacauan, dan segalanya.
Anggapan-anggapan
miring terhadap globalisasi seperti tadi tentunya tidak akan memperbaiki
keadaan, bahkan hal itu hanya akan semakin memperparah. Sebab sebagai sebuah
konsekuensi dari laju peradaban, globalisasi adalah hal yang mesti terjadi.
Meski secara potensial memang akan muncul banyak keanehan akibat globalisasi
semisal kerakusan manusia, kenakalan remaja, kerusakan alam, dan sebagainya
namun globalisasi tidak lantas harus disikapi dengan cara mengisolasi diri dan
tindakan menghindar (eksklusif). Bahkan tidak cukup menghadapinya dengan cara
bertahan dan bersikap pasif, lebih dari itu agama ini harus dibawa ke arah yang
berperan aktif serta lebih terbuka (ingklusif) dalam menggiring laju zaman.
Hal
itulah yang juga ditekankan oleh Dr. A. Qodri Azizy, MA. Dalam salah satu
bukunya bahwa Islam idealnya tidak menjadi golongan inferior yang selalu
merepres perubahan. Sebab dalam taraf tertentu pada akhirnya kita juga akan
terseret zaman. Namun yang perlu dilakukan adalah harus bisa menyeimbangi laju
peradaban sehingga mendapat predikat yang superior. Dengan begitu, yang perlu
dilakukan terhadap globalisasi adalah mengakomodasinya dengan cara menerima dan
menyesuaikan apapun sejauh hal tersebut bisa ditolerir.
Untuk
melakukan semua hal tadi, terlebih dahulu kita harus kembali memahami dan
memegang teguh nilai-nilai keagamaan yang telah Islam ajarkan sejak dahulu
kala. Sebab akan ada pergesekan dan persaingan budaya yang luar biasa dalam
globalisasi. Maka bila tidak dibarengi dengan kuatnya identitas dan prinsip
diri, kita akan kalah telak dan bisa saja kehilangan arah juang.
Di
sinilah kenapa globalisasi memang menjadi sesuatu yang bila ditinggal maka akan
mengakibatkan kemunduran dalam Islam. Maka menghadapinya adalah tanggung jawab
bersama sebagai sebuah kewajiban dan pengabdian terhadap agama yang luhur ini.
Apakah
ini akan berhasil? Dengan segenap keyakinan, kita harus mengembalikan muruah
agama Islam seperti sedia kala. Sebab nilai-nilai yang ada dalam Islam
sangatlah berpengaruh dalam perkembangan zaman selama bisa dipegang teguh. Kita
juga harus mengingat apa yang sudah rasul wariskan pada kita. Dua hal yang bila
dijadikan prinsip maka kita tidak akan tersesat, yaitu Al-Quran dan Hadis. Baik
itu tersesat ke jalan yang salah atau juga bisa diartikan tersesat dan
terjerumus dalam ketertinggalan zaman hal itu akan menjadi sama saja.
Kita
juga pernah ingat dulu bahwa orang-orang barat memulai peradaban pengetahuannya
tidak terlepas dari karya-karya ilmuwan-ilmuwan muslim yang banyak mereka
terjemahkan. Lantas apakah kita yang sudah jelas-jelas beragama Islam ini hanya
akan meremehkan hal tersebut dan melupakan nilai-nilai luhur Islam? Pastinya
tidak boleh. Maka dengan segenap usaha dan kerja keras, mari kita bawa kembali agama
ini ke masa kejayaannya seperti sedia kala.
#DivPenalaran #Kominfo


Comments
Post a Comment